Senin, 12 Mei 2008

http/www.pab-indonesia.com

SEJARAH SINGKAT

Ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) mendominasi kekuatan politik di tanah air, sekitar tahun 1965, banyak media cetak yang menjadi korban pemberdelan. Pers ketika itu seakan berada dalam cengkraman PKI.

Padahal, ketika itu pers sangat berpengaruh dalam pembentukan opini. Ketika PKI menjadi ancaman serius bagi tegaknya Panca Sila dan utuhnya UUD 1945, tak banyak media yang mampu meng-counter pembentukan opini yang dibuat oleh PKI. Padahal, ABRI (baca-TNI) punya tugas dan tanggung jawab mengawal Panca Sila dan UUD 1945.

Ketika pers yang menjadi partner ABRI dalam pembentukan opini lumpuh, maka ABRI ketika itu memandang perlu membuat suatu penerbitan yang dianggap perlu meng-counter segala bentuk propaganda yang dibuat oleh PKI.
Kesadaran inilah yang membuat ABRI menerbitkan Kantor Berita PAB, yang ketika itu dimotori oleh Mayjen TNI R.H. Suhandhi (kini-Alm). Banyak tokoh berjasa yang ikut membidani kelahiran PAB ketika itu, diantaranya adalah Kol. Komar, J. Blasius Bapam Taslim AS, Hendardi, T.I Osman, R.S Hadikamadjaja, Putradjaja, Kemal Tobing.

Setelah kelahiran PAB, kemudian menyusul diterbitkannya Koran Angkatan Bersenjata, dan Koran Berita Yudha. Disinilah tonggak sejarah keterlibatan ABRI dalam dunia pers secara terbuka.

Seiring dengan pasang surut perjalananya, pada tahun 1982 muncul kebijakan, yang menentukan perlu adanya perubahan manajemen. Pada tahun 1989, muncul kebijakan kalau PAB harus dikelola oleh Direktorat Penerangan Staf Angkatan Bersenjata, ketika itu secara ex-officio Ka-Puspen ABRI harus menjadi Pemimpin Umum.

Dalam perjalanannya, tentu banyak suka-duka yang dilalui oleh para pengurus PAB, sampai harus beberapa kali berpindah kantor. Brigjen TNI (Pur) Nurhadi Purwosaputro, termasuk salah satu diantara Ka-Puspen yang ikut mengiringi perjalanan PAB.

Sejalan dengan euphoria demokrasi, dan ketatnya persaingan di dunia pers, dua Koran ABRI tak lagi mampu terbit, yakni koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Tumbangnya kedua Koran ABRI tersebut, memang tak terlepas dari tuntutan agar ABRI tak lagi menjadi kekuatan sosial politik di tanah air.
Namun PAB masih tetap bertahan, meski harus hidup dalam kondisi yang terseok-seok. Ketika ABRI tak lagi berpolitk, PAB pun melepaskan diri dari keberadannya sebagai media counter bagi ABRI. Sehingga PAB tidak lagi bernaung dalam lembaga Pusat Penerangan ABRI.

Idealisme para jurnalisnyalah yang membuat PAB masih tetap bertahan hidup, sehingga kepengurusan PAB tidak lagi secara ex-officio Ka-Puspen TNI menjadi Pemimpin Umum. Sejak tak berada dalam naungan Puspen ABRI, PAB terus membenahi diri. Kini munculah tenaga-tenaga professional yang masih punya idealisme tinggi dan tetap mengharapkan PAB eksis di kencah pers nasional.

Lewat tenaga-tenaga professional inilah kemudian membuat PAB tetap bertahan. Bahkan kini PAB telah mengembangkan sayapnya lewat penerbitan Koran, dan Website. Meski sudah melebarkan sayapnya menjadi sebuah Koran dan Website, namun PAB tetap tak akan pernah melupakan sejarah kelahirannya. Untuk itu Bulletin PAB tetap masih diterbitkan.

Seperti pepatah melayu mengatakan. “Bagsa yang besar, adalah bangsa yang bisa menghargai pahlawannya”. Pepatah inilah yang menjadikan Koran PAB, Website PAB dan Bulletin masih mencantumkan sejumlah nama para pendirinya, baik yang menjadi pelindung, pengurus, maupun dewan redaksinya.

Kedepan PAB akan melebarkan sayapnya di bidang media elektronik, baik Radio, maupun televisi. Kami masih ingat pesan orang tua dulu. “Raihlah cita-cita setinggi langit”, pesan inilah yang memotifasi kami untuk terus melebarkan kepak selebar-lebarnya. Semoga!

Alamat Redaksi :
Batam :Komplek Penuin Centre Blok B No. 9Jl. Baloi Kusuma – Batam 29442Provinsi Kepulauan Riau – IndonesiaTelp. +62-778-429798, +62-778-7289737Fax. +62-778-425664

Jakarta :Wisma Kita Lt. 4Jl. Balai Pustaka Timur Blok J No. 225 D & ERawamangun - Jakarta Timur 13220Provinsi DKI – IndonesiaTelp. +62-21-4706564Fax. +62-21-47862284

Email = redaksi@pab-indonesia.com
SMS = 0811-7009087

Tidak ada komentar: